Shaum

Qiyamul Lail

Menu Ramadhan

Recent Posts

Tradisi Mudik Lebaran di Beberapa Negara

7:24 AM Add Comment
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Tradisi Mudik Lebaran di Beberapa Negara - Nah, berikut ini ada beberapa tradisi perayaan hari Idul Fitri di beberapa negara. Apa saja?



Mudik Lebaran di Indonesia

Mudik dilakukan menjelang perayaan hari besar keagamaan, terutama saat Idul Fitri bagi kaum muslim. Tujuannya adalah merayakan hari besar bersama keluarga dan berziarah ke makam leluhur. Selama perayaan Idul Fitri, masyarakat muslim di Indonesia biasanya berkunjung ke rumah-rumah untuk berjabat tangan, saling bermaafan, dan silaturahmi, yang dikenal dengan sebutan 'halal bi halal'.

Mudik Lebaran di Tiongkok

Umat muslim di Tiongkok memperingati hari raya lebaran dengan mengunjungi makam leluhur dan kemudian berdoa. Tradisi doa ini pun dilakukan secara khusus untuk menghormati ratusan ribu muslim yang tewas selama Dinasti Qing dan Revolusi Kebudayaan. Seusai salat id, umat muslim di Tiongkok melakukan jamuan makan dan bersilaturahmi.

Mudik Lebaran di Amerika Serikat (AS)

Masyarakat muslim di AS menginformasikan datangnya lebaran melalui sambungan telepon atau internet. Mereka pun merayakan lebaran dengan cara yang unik dengan pakaian yang berwarna-warni sesuai negara asalnya. Maklum, mayoritas muslim di sana merupakan kaum imigran. Selesai melaksanakan salat id, mereka saling mengucapkan 'Happy Eid'  antarsesama jemaah salat id, para kenalan dekat, dan kaum kerabat.

Mudik Lebaran di Malaysia

Di Malaysia, tradisi mudik dikenal dengan nama “balik kampong”. Masyarakat Malaysia melakukan "balik kampong" tak hanya pada saat lebaran tetapi juga saat tahun baru Imlek. Sebab, masyarakat Malaysia adalah masyarakat multietnis yang terdiri atas Tiongkok, India, dan Melayu.

Tradisi merayakan lebaran di negeri tetangga ini ternyata tak jauh berbeda dari masyarakat di Indonesia. Sebagai hidangan khas, masyarakat Malaysia makan ketupat, lemang, lontong, dan rendang. Setelah salat id, mereka berziarah ke makam kerabat. Bahkan perayaan lebaran bisa berlangsung sampai berhari-hari lamanya.

Mudik Lebaran di Turki

Di Turki, perayaan Idul Fitri juga dikenal dengan Seker Bayram. Kemungkinan sebutan ini muncul karena tradisi mereka saling mengantarkan manisan pada hari raya Idul Fitri. Seperti tradisi sungkem di Indonesia, anak-anak di sana juga bersalaman dan sembah sujud kepada orang tua. Kemudian orang tua membalas dengan ciuman di kedua pipi sebagai simbol kasih sayang. Setelah itu, anak-anak pun mendapatkan hadiah berupa uang koin, permen, atau manisan.

Menarik, kan? Jika Idul Fitri ini kamu akan mudik, hati-hati di jalan ya, teman!(Info Ramadhan)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Dasar Metode Rukyatul Hilal dalam al-Qur'an

7:05 AM Add Comment
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Dasar Metode Rukyatul Hilal dalam al-Qur'an - Dalam menetapkan awal puasa Ramadlan dan hari raya umat Islam menggunakan metode rukyatul Hilal (melihat bulan baru).


Hal itu berdasarkan dalil didalam Al-Qur’an al-Karim, yang mana Allah subhanahu wata’ala berfirman:


يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ. (البقرة : 189).
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji”.

 Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah menjadikan keluarnya bulan sebagai waktu untuk menentukan ibadah seperti puasa dan haji, memulainya dengan melihat bulan. Al-Hafizh Ibnu al-‘Arabi al-Maliki berkata:

إذَا ثَبَتَ أَنَّهُ مِيقَاتٌ فَعَلَيْهِ يُعَوَّلُ ; لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِه ، فَإِنْ لَمْ يُرَ فَلْيُرْجَعْ إلَى الْعَدَدِ الْمُرَتَّبِ عَلَيْهِ، وَإِنْ جُهِلَ أَوَّلُ الشَّهْرِ عُوِّلَ عَلَى عَدَدِ الْهِلالِ قَبْلَهُ، وَإِنْ عُلِمَ أَوَّلُهُ بِالرُّؤْيَةِ بُنِيَ آخِرُهُ عَلَى الْعَدَدِ الْمُرَتَّبِ عَلَى رُؤْيَتِهِ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاثِينَ . وَرُوِيَ: فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلاثِينَ ثُمَّ أَفْطِرُوا. (الحافظ ابن العربي المالكي، أحكام القرآن 1/109).
“Apabila keluarnya bulan telah ditetapkan sebagai batas waktu, maka hal inilah yang harus dijadikan pegangan, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berpuasalah kalian karena melihat bulan, dan berbukalah karena melihat bulan.” Apabila bulan tidak dapat dilihat, maka hendaknya dikembalikan pada hitungan sesudahnya. Apabila awal bulan tidak diketahui, maka berpegangan pada hitungan bulan sebelumnya. Apabila awal bulan diketahui dengan rukyat (dilihat), maka akhir bulan ditetapkan berdasarkan hitungan mulai dilihatnya, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila mendung menghalangi kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30.”

Diriwayatkan juga: “Apabila mendung menghalangi kalian, maka hitunglah 30 hari, kemudian berbukalah.” (Al-Hafizh Ibnu al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an, juz 1 hlm 109).(Info Ramadhan)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Asal-Usul Kata Mudik

4:37 AM Add Comment
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Asal-Usul Kata Mudik - jika menurut pada Wikipedia, mudik diartikan sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya.

Asal-Usul Kata Mudik 

Namun ternyata kata mudik ini sebenarnya merupakan singkatan yang berasal dari Bahasa Jawa Ngoko.



Kata mudik merupakan singkatan dari 'mulih disik' yang artinya adalah pulang sebentar.
Jadi sebenarnya kata mudik ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Lebaran.
Namun seiring perkembangan, kata mudik kini telah mengalami pergeseran makna.

Mudik juga dikaitkan dengan kata 'udik' yang artinya kampung, desa, dusun, atau daerah yang merupakan lawan kata dari kota.

Dengan pendekatan itu, maka kata mudik diartikan sebagai kegiatan seseorang pulang ke desa atau kampung halamannya.

Awal Mula Tradisi Mudik

Sebenarnya tradisi mudik ini sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit. Dahulu para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya.



Hal ini dilakukan untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki. Namun istilah mudik Lebaran baru berkembang sekitar tahun 1970-an.

Saat itu Jakarta sebagai ibukota Indonesia tampil menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat.

Bagi penduduk lain yang berdomisili di desa, Jakarta menjadi salah satu kota tujuan impian untuk mereka mengubah nasib.(Info Ramadhan)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Detoksifikasi Tubuh Selama Berpuasa di Bulan Ramadhan

3:42 PM Add Comment
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Detoksifikasi Tubuh Selama Berpuasa di Bulan Ramadhan  - Bulan Ramadhan selalu disambut dengan suka cita oleh hampir seluruh umat Muslim di dunia. Tidak hanya memberikan ketenangan spiritual, tetapi berpuas di bulan Ramadan juga berdampak positif terhadap kesehatan.


Ya, berpuasa selama bulan Ramadan ternyata dapat mencerdaskan otak dan menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Bahkan, berpuasa menjadi cara sempurna untuk mendetoksifikasi selama bulan Ramadan. Berikut penjelasan manfaat berpuasa selama bulan Ramadan yang dilansir dari Yahoo.

Meningkatkan kecerdasan otak


Tidak diragukan lagi, efek positif berpuasa tidak hanya untuk kesehatan mental dan spiritual, tetapi juga kekuatan otak. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Amerika Serikat menemukan bahwa fokus mental saat Ramadan meningkatkan neurotropik dari otak. Hal ini akan menghasilkan sel-sel otak lebih banyak, sehingga meningkatkan fungsi otak.

Selain itu, berpuasa di bulan Ramanda juga menurunkan hormon kortisol yang diproduksi kelenjar adrenalin, sehingga mengurangi stres selama dan setelah Ramadan.

Menurunkan kolesterol

Mungkin Anda berpikir bahwa penurunan berat badan adalah hasil dari berpuasa selama Ramadan, tetapi ada perubahan lain yang tak disangka. Sebuah tim ahli jantung di UAE menemukan bahwa orang yang berpuasa di bulan Ramadan menikmati efek positif pada lipid mereka, artinya terjadi pengurangan kolesterol dalam darah.

Rendah kolesterol meningkatkan kesehatan jantung, mengurangi risiko menderita penyakit jantung, serangan jantung dan stroke. Terlebih lagi, jika Anda mengikuti diet sehat setelah Ramadan, maka kadar kolesterol akan mudah untuk dikontrol.

Detoksifikasi

Ramadan bisa menjadi waktui detoksifikasi fantastis untuk tubuh Anda. Dengan tidak makan dan minum sampai waktu tertentu, maka tubuh berkesempatan untuk mendetoksifikasi sistem pencernaan sepanjang bulan Ramadan.

Ketika tubuh mulai makan, maka akan menjadi cadangan lemak untuk menghasilkan energi dan membakar setiap racun berbahaya dalam timbunan lemak. Cara ini merupakan batu loncatan sempurna untuk gaya hidup sehat.
(Kabar Ramadhan)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Puasa Ramadan Ternyata Mampu Mengurangi Kebiasaan Tidak Sehat

11:59 PM Add Comment
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Puasa Ramadan Ternyata Mampu Mengurangi Kebiasaan Tidak Sehat - Saat berpuasa di bulan Ramadan seseorang diwajibkan tidak makan dan minum dari terbitnya matahari sampai terbenam. Istimewanya, tahukah Anda hal tersebut berdampak baik terhadap kesehatan?


Ada sejumlah manfaat kesehatan dari berpuasa selama bulan Ramadan. Di antaranya mengurangi kebiasaan buruk Anda selama ini, seperti merokok dan mengonsumsi junk food. Berikut penjelasannya yang dilansir dari Yahoo.

Cegah kebiasaan tidak sehat

Ramadan adalah waktu yang tepat untuk mengurangi kebiasaan buruk, seperti merokok dan makanan manis berlebihan. Dengan tidak memanjakan diri dengan kebiasaan buruk tersebut, maka setelah bulan Ramadan Anda akan terbiasa hidup sehat.

Penurunan nafsu makan

Salah satu masalah utama ketika bulan puasa adalah berat badan cepat turun, namun kembali lagi setelah Ramadan. Penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi saat berpuasa menyebabkan lemak perut menyusut secara bertahap.

Jika Anda ingin membiasakan makan sehat, maka Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memulai. Jika nafsu makan Anda lebih rendah dari sebelumnya, maka kemungkinan kecil untuk makan berlebihan setelah Ramadan.

Menyerap lebih banyak nutrisi

Dengan tidak makan sepanjang hari selama bulan Ramadan, maka metabolisme menjadi lebih efisien. Artinya, jumlah nutrisi yang diserap dari makanan menjadi lebih banyak.

Hal ini karena peningkatan hormon yang disebut adiponectin memungkinkan otot-otot menyerap lebih banyak nutrisi. Ini akan memberikan manfaat kesehatan secara keseluruhan.
(Kabar Ramadhan)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Menanam Nilai Berbagi pada Anak di Bulan Ramadhan

11:57 PM Add Comment
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Menanam Nilai Berbagi pada Anak di Bulan Ramadhan - Anak-Anak perlu belajar bahwa amal tidak hanya tentang memberi uang, tetapi juga berbagi kasih sayang lewat tindakan, perbuatan dan tingkah laku.


Selama Ramadan Anda bekerja dan belajar tersenyum lebih banyak antar satu sama lain. Bersabar satu sama lain dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk membantu sesama.

Nilai-nilai kebaikan selama Ramadan bisa sangat tepat diajarkan kepada anak-anak. Hal itu disampaikan oleh seorang guru Sekolah Dasar di California yang merupakan seorang muslim, Zakkiya.

“Ajarkan kepada anak-anak agar berusaha lebih keras untuk mengendalikan argumen diri sebagai bentuk kepatuhan terhadap orangtua dan menahan sabar. Menunjukkan toleransi dan kasih sayang terhadap saudara mereka,” tulis Zakkiya di situs Productivemuslim.

Akan tetapi, ingatlah untuk menerima kenyataan bahwa anak-anak pasti akan membuat kesalahan dan butuh pengingat konstan. Mulailah dengan mengajar anak-anak untuk tersenyum lebih banyak, menyapa satu sama lain dengan perasaan tulus dan kehangatan.

“Menyapa kakek-nenek, paman atau bibi, menulis surat atau menggambar sesuatu untuk orang yang dicintai. Didik mereka untuk menerapkan cara makan yang lebih baik, harus ekstra bersih, dan memperlakukan diri sendiri dan orang lain dengan baik. Ajarkan beramal dalam segala bentuk,” jelasnya.
(Kabar Ramadhan)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Berbuka Puasa Ala Nabi Muhammad

2:02 AM Add Comment
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Berbuka Puasa Ala Nabi Muhammad - Berbuka puasa adalah salah satu kenikmatan Allah ta’ala yang dirasakan oleh orang yang berpuasa. Kenikmatan tersebut termasuk kegembiraan yang diawalkan bagi orang yang berpuasa di dunia sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ
“Dan bagi orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7492 dan Muslim no. 1151].

Oleh karena itu, sesuatu yang biasa-biasa saja kita makan di luar waktu puasa bulan Ramadlaan, seringkali menjadi luar biasa saat kita makan ketika berbuka puasa. Segelas air putih dan sepotong singkong goreng dingin pun dapat terasa sangat nikmat dalam kecapan waktu berbuka. Berbukanya seorang muslim yang baik tidak sekedar dengan cara ‘membatalkannya’ melalui makan minum saja atau yang penting perut terisi dan kenyang. Ada beberapa tuntunan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang jika kita meneladaninya, dapat menjadikan amalan berbuka puasa kita menjadi lebih sempurna dan berpahala. Apa sajakah itu? Berikut beberapa hal yang diambilkan dari Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih:

1.     Menyegerakan berbuka puasa.
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Dari Sahl bin Sa’ad, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Manusia senantiasa berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1957 dan Muslim no. 1098].
عَنْ أَبِي هُرَيْرَة، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ، إِنَّ الْيَهُودَ، وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Agama senantiasa kokoh selama manusia menyegerakan berbuka. Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya (menundanya)” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 2353; dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud 2/58].



Yaitu waktunya dimulai ketika matahari telah terbenam yang dengannya masuk waktu Maghrib. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ وَأَدْبَرَ النَّهَارُ، وَغَابَتِ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ
“Apabila malam telah tiba dan siang telah berlalu, serta matahari pun terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1100].

An-Nawawiy rahimahullah berkata :
قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْل وَأَدْبَرَ النَّهَار وَغَابَتْ الشَّمْس فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِم ) مَعْنَاهُ : اِنْقَضَى صَوْمه وَتَمَّ , وَلَا يُوصَف الْآن بِأَنَّهُ صَائِم , فَإِنَّ بِغُرُوبِ الشَّمْس خَرَجَ النَّهَار وَدَخَلَ اللَّيْل , وَاللَّيْل لَيْسَ مَحِلًّا لِلصَّوْمِ
“Makna sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila malam telah tiba dan siang telah berlalu, serta matahari pun terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka” ; adalah puasanya telah selesai sempurna, dan (pada waktu matahari sudah tenggelam dengan sempurna) dia bukan orang yang berpuasa.  Maka dengan terbenamnya matahari, habislah waktu siang dan malam pun tiba; dan malam hari bukanlah waktu untuk berpuasa” [Syarh Shahiih Muslim 7/209].

2.     Mendahulukan berbuka sebelum shalat maghrib.
عَنْ أَنَس بْن مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
Dari Anas bin Maalik, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan ruthab sebelum melaksanakan shalat (Maghrib), maka jika tidak ada ruthab (beliau berbuka) dengan tamr. Jika tidak ada (tamr) maka beliau berbuka dengan meneguk air” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 2356, Ahmad 3/164, dan yang lainnya; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Irwaaul-Ghalil 4/45 no. 922].

3.     Sebelum berbuka membaca basmalah.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكمْ , فَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَليهِ, يُبَارَكْ لَكمْ فِيهِ
“Berkumpullah kalian ketika makan, dan sebutlah nama Allah padanya. Maka makanan kalian akan diberkahi” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3764, Ibnu Maajah no. 3286, dan yang lainnya; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah 2/268-270 no. 664].

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya setan menghalalkan makanan (untuk ia makan dari makanan yang dimakan manusia) yang tidak disebut nama Allah padanya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2017].
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
مَعْنَى ( يَسْتَحِلّ ) يَتَمَكَّن مِنْ أَكْله ، وَمَعْنَاهُ : أَنَّهُ يَتَمَكَّن مِنْ أَكْل الطَّعَام إِذَا شَرَعَ فِيهِ إِنْسَان بِغَيْرِ ذِكْر اللَّه تَعَالَى . وَأَمَّا إِذَا لَمْ يَشْرَع فِيهِ أَحَد فَلَا يَتَمَكَّن . وَإِنْ كَانَ جَمَاعَة فَذَكَرَ اِسْم اللَّه بَعْضهمْ دُون بَعْض لَمْ يَتَمَكَّن مِنْهُ
“Makna dari ‘menghalalkan’ yaitu dapat menikmati makanan tersebut. Maksudnya, bahwa setan itu mendapatkan bagian makanan jika seseorang memulainya tanpa dzikir kepada Allah ta’ala. Adapun bila belum ada seseorang yang memulai makan, maka (setan) tidak akan dapat memakannya. Jika sekelompok orang makan bersama-sama dan sebagian mereka menyebut nama Allah sedangkan sebagian lainnya tidak, maka setan pun tidak akan dapat memakannya” [Syarh Shahiih Muslim 13/189-190].

Apabila lupa mengucapkan basmalah, ketika ingat disunnahkan membaca:
بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ
“Bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi (dengan menyebut Allah di awal dan di akhirnya)” [Diriwayatkan oleh Ahmad 6/143 & 246 & 265, Ibnu Maajah no. 3264, Ibnu Hibbaan no. 5214, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Arna’uth dalam Takhriij Shahiih Ibni Hibbaan 12/14-15].

4.     Berbuka dengan kurma atau makanan lain yang ada dan mudah didapat.
Berbuka puasa dengan memakan beberapa butir kurma, baik ruthab (kurma setengah matang yang masih sedikit keras dan berwarna hijau kecoklatan), tamr (kurma matang), atau hanya sekedar air putih jika yang ada hanya itu - sebagaimana hadits Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu di atas.
Atau berbuka dengan beberapa makanan yang disukai atau biasa dimakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: " رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ الرُّطَبَ بِالْقِثَّاءِ "
Dari ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : “Aku pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam makan ruthab dengan mentimun” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5440 & 5447 & 5449 dan Muslim no. 2043].

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرُّطَبِ وَالْخِرْبِزِ
Dari Anas, ia berkata : “Aku permah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mencampur antara ruthab dengan khirbiz (semangka kuning)” [Diriwayatkan oleh Ahmad 3/142 & 143, Ibnu Hibbaan no. 5248, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Arna’uth dalam Takhriij Shahiih Ibni Hibbaan 12/53].
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ الْبِطِّيخَ بِالرُّطَبِ، فَيَقُولُ: نَكْسِرُ حَرَّ هَذَا بِبَرْدِ هَذَا وَبَرْدَ هَذَا بِحَرِّ هَذَا
Dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa makan semangka dan ruthab, lalu beliau bersabda : ‘Panasnya ruthab ini kami hilangkan dengan dinginnya semangka ini, dan dinginnya semangka ini kami hilangkan dengan panasnya ruthab ini” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3836, At-Tirmidziy no. 1843, Ibnu Hibbaan no. 5246 & 5247, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud 2/454-455].

عَنْ ابْنَيْ بُسْرٍ السُّلَمِيَّيْنِ، قَالَا: دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدَّمْنَا زُبْدًا وَتَمْرًا، وَكَانَ يُحِبُّ الزُّبْدَ وَالتَّمْرَ
Dari dua orang anak Busr As-Sulamiy, mereka berdua berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui kami. Lalu kami hidangkan keju dan tamr kepada beliau, dan beliau menyukai keju dan tamr” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3837, Ibnu Maajah no. 3334, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud 2/455].

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ: أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ، فَقَالُوا: مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ، فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ، وَيَقُولُ: نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ
Dari Jaabir bin ‘Abdillah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada keluarganya tentang lauk. Mereka berkata : “Tidak ada di sisi kami kecuali cuka”. Maka beliau menyuruh untuk diambilkan dan kemudian makan dengannya. Beliau bersabda : “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2052, At-Tirmidziy no. 1839 & 1842, dan yang lainnya].

Dan makanan lainnya yang pernah dimakan oleh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Beberapa jenis makanan di atas bukan merupakan bagian dari sunnah yang dianjurkan bagi kita untuk memakannya. Akan tetapi jika kita memakannya dikarenakan kecintaan kita kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka kita akan diberikan pahala berdasarkan niat kita. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal-amal itu hanyalah berdasarkan niat, dan setiap orang hanyalah akan dibalas sesuai apa yang diniatkannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1].
Amalan kecil akan menjadi besar karena niatnya, dan begitu juga sebaliknya, amalan besar akan menjadi kecil – dan bahkan hilang sama sekali – karena niatnya pula.

5.     Tidak berlebihan ketika berbuka, memenuhi perut dengan makanan dan minuman.
Allah ta’ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [QS. Al-A’raaf : 31].
عَنْ مِقْدَامِ بْنِ مَعْدِ يكَرِبَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
Dari Miqdaam bin Ma’diikarib, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2380, Ibnu Maajah no. 3349, Ahmad 4/132, Ibnu Hibbaan no. 674 & 5236, dan yang lainnya; shahih].
Berbuka dimulai dengan sedikit makanan dan minuman (diantaranya seperti dalam nomor 4) agar tidak menyebabkan berat ketika shalat Maghrib. Baru setelah itu, dapat dilanjutkan kembali dengan makan makanan berat seperti nasi dan yang lainnya.

Memenuhi perut dengan makanan dan minuman dapat menyebabkan rasa malas/berat untuk beribadah, mual, dan berbagai gangguan kesehatan.

6.     Mengucapkan hamdalah atau doa-doa lain yang ma’tsuur setelah selesai makan dan minum.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ، فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
Dari Anas bin Maalik, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah ridla terhadap hamba-Nya yang makan atau minum, dan setelah itu ia memuji Allah atasnya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2734].
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَعَ مَائِدَتَهُ، قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا
Dari Abu Umaamah, bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai dari makanannya beliau mengucapkan : “Alhamdulillaahi katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi ghairo makfiyyin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu Robbanaa (segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh barakah, yang senantiasa dibutuhkan, diperlukan, dan tidak dapat ditinggalkan, wahai Rabb kami” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5458].
عَنْ مَرْوَان يَعْنِي ابْن سَالِمٍ الْمُقَفَّعَ قَالَ رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَا زَادَ عَلَى الْكَفِّ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dari Marwaan – yaitu Ibnu Saalim Al-Muqaffa’ - , ia berkata : Aku pernah melihat Ibnu ‘Umar menggenggam jenggotnya dan memotong selebih dari (genggaman) telapak tangannya, lalu berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka puasa berdoa : ‘(Dzahabazh-zhoma-u wab-talatil-‘uruuqu wa tsabatal-ajru insya Allooh) Rasa haus telah pergi dan urat-urat telah terbasahi serta telah ditetapkan pahala insya Allah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 2357, An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa 3/374 no. 3315 & 9/119 no. 10058 dan dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah hal. 268-269 no. 299, dan yang lainnya; dihasankan oleh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Mausu’ah Al-Haafidh Ibni Hajar Al-Hadiitsiyyah 2/360 no. 78].
Jika kita diberikan makanan atau minuman berbuka puasa oleh orang lain, maka disunnahkan untuk mendoakannya dengan doa diantaranya:
اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِي
“Alloohumma ath’im man ath’amanii wasqi man asqoonii (ya Allah, berilah makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2055].

7.     Jika mempunyai kelebihan hidangan untuk berbuka, sangat dianjurkan untuk memberikan sebagiannya kepada orang lain (yang berpuasa) atau mengundang mereka untuk berbuka bersama.
عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا "
Dari Zaid bin Khaalid Al-Juhaniy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang memberi makanan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 807, Ibnu Maajah no. 1746, Ahmad 4/114 & 116, dan Ibnu Hibbaan no. 3429; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 1/423-424].
Ini saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.(Kabar Ramadhan)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين