Tradisi Mudik Lebaran di Beberapa Negara

7:24 AM Add Comment
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Tradisi Mudik Lebaran di Beberapa Negara - Nah, berikut ini ada beberapa tradisi perayaan hari Idul Fitri di beberapa negara. Apa saja?



Mudik Lebaran di Indonesia

Mudik dilakukan menjelang perayaan hari besar keagamaan, terutama saat Idul Fitri bagi kaum muslim. Tujuannya adalah merayakan hari besar bersama keluarga dan berziarah ke makam leluhur. Selama perayaan Idul Fitri, masyarakat muslim di Indonesia biasanya berkunjung ke rumah-rumah untuk berjabat tangan, saling bermaafan, dan silaturahmi, yang dikenal dengan sebutan 'halal bi halal'.

Mudik Lebaran di Tiongkok

Umat muslim di Tiongkok memperingati hari raya lebaran dengan mengunjungi makam leluhur dan kemudian berdoa. Tradisi doa ini pun dilakukan secara khusus untuk menghormati ratusan ribu muslim yang tewas selama Dinasti Qing dan Revolusi Kebudayaan. Seusai salat id, umat muslim di Tiongkok melakukan jamuan makan dan bersilaturahmi.

Mudik Lebaran di Amerika Serikat (AS)

Masyarakat muslim di AS menginformasikan datangnya lebaran melalui sambungan telepon atau internet. Mereka pun merayakan lebaran dengan cara yang unik dengan pakaian yang berwarna-warni sesuai negara asalnya. Maklum, mayoritas muslim di sana merupakan kaum imigran. Selesai melaksanakan salat id, mereka saling mengucapkan 'Happy Eid'  antarsesama jemaah salat id, para kenalan dekat, dan kaum kerabat.

Mudik Lebaran di Malaysia

Di Malaysia, tradisi mudik dikenal dengan nama “balik kampong”. Masyarakat Malaysia melakukan "balik kampong" tak hanya pada saat lebaran tetapi juga saat tahun baru Imlek. Sebab, masyarakat Malaysia adalah masyarakat multietnis yang terdiri atas Tiongkok, India, dan Melayu.

Tradisi merayakan lebaran di negeri tetangga ini ternyata tak jauh berbeda dari masyarakat di Indonesia. Sebagai hidangan khas, masyarakat Malaysia makan ketupat, lemang, lontong, dan rendang. Setelah salat id, mereka berziarah ke makam kerabat. Bahkan perayaan lebaran bisa berlangsung sampai berhari-hari lamanya.

Mudik Lebaran di Turki

Di Turki, perayaan Idul Fitri juga dikenal dengan Seker Bayram. Kemungkinan sebutan ini muncul karena tradisi mereka saling mengantarkan manisan pada hari raya Idul Fitri. Seperti tradisi sungkem di Indonesia, anak-anak di sana juga bersalaman dan sembah sujud kepada orang tua. Kemudian orang tua membalas dengan ciuman di kedua pipi sebagai simbol kasih sayang. Setelah itu, anak-anak pun mendapatkan hadiah berupa uang koin, permen, atau manisan.

Menarik, kan? Jika Idul Fitri ini kamu akan mudik, hati-hati di jalan ya, teman!(Info Ramadhan)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Dasar Metode Rukyatul Hilal dalam al-Qur'an

7:05 AM Add Comment
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Dasar Metode Rukyatul Hilal dalam al-Qur'an - Dalam menetapkan awal puasa Ramadlan dan hari raya umat Islam menggunakan metode rukyatul Hilal (melihat bulan baru).


Hal itu berdasarkan dalil didalam Al-Qur’an al-Karim, yang mana Allah subhanahu wata’ala berfirman:


يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ. (البقرة : 189).
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji”.

 Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah menjadikan keluarnya bulan sebagai waktu untuk menentukan ibadah seperti puasa dan haji, memulainya dengan melihat bulan. Al-Hafizh Ibnu al-‘Arabi al-Maliki berkata:

إذَا ثَبَتَ أَنَّهُ مِيقَاتٌ فَعَلَيْهِ يُعَوَّلُ ; لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِه ، فَإِنْ لَمْ يُرَ فَلْيُرْجَعْ إلَى الْعَدَدِ الْمُرَتَّبِ عَلَيْهِ، وَإِنْ جُهِلَ أَوَّلُ الشَّهْرِ عُوِّلَ عَلَى عَدَدِ الْهِلالِ قَبْلَهُ، وَإِنْ عُلِمَ أَوَّلُهُ بِالرُّؤْيَةِ بُنِيَ آخِرُهُ عَلَى الْعَدَدِ الْمُرَتَّبِ عَلَى رُؤْيَتِهِ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاثِينَ . وَرُوِيَ: فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلاثِينَ ثُمَّ أَفْطِرُوا. (الحافظ ابن العربي المالكي، أحكام القرآن 1/109).
“Apabila keluarnya bulan telah ditetapkan sebagai batas waktu, maka hal inilah yang harus dijadikan pegangan, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berpuasalah kalian karena melihat bulan, dan berbukalah karena melihat bulan.” Apabila bulan tidak dapat dilihat, maka hendaknya dikembalikan pada hitungan sesudahnya. Apabila awal bulan tidak diketahui, maka berpegangan pada hitungan bulan sebelumnya. Apabila awal bulan diketahui dengan rukyat (dilihat), maka akhir bulan ditetapkan berdasarkan hitungan mulai dilihatnya, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila mendung menghalangi kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30.”

Diriwayatkan juga: “Apabila mendung menghalangi kalian, maka hitunglah 30 hari, kemudian berbukalah.” (Al-Hafizh Ibnu al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an, juz 1 hlm 109).(Info Ramadhan)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Asal-Usul Kata Mudik

4:37 AM Add Comment
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Asal-Usul Kata Mudik - jika menurut pada Wikipedia, mudik diartikan sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya.

Asal-Usul Kata Mudik 

Namun ternyata kata mudik ini sebenarnya merupakan singkatan yang berasal dari Bahasa Jawa Ngoko.



Kata mudik merupakan singkatan dari 'mulih disik' yang artinya adalah pulang sebentar.
Jadi sebenarnya kata mudik ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Lebaran.
Namun seiring perkembangan, kata mudik kini telah mengalami pergeseran makna.

Mudik juga dikaitkan dengan kata 'udik' yang artinya kampung, desa, dusun, atau daerah yang merupakan lawan kata dari kota.

Dengan pendekatan itu, maka kata mudik diartikan sebagai kegiatan seseorang pulang ke desa atau kampung halamannya.

Awal Mula Tradisi Mudik

Sebenarnya tradisi mudik ini sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit. Dahulu para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya.



Hal ini dilakukan untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki. Namun istilah mudik Lebaran baru berkembang sekitar tahun 1970-an.

Saat itu Jakarta sebagai ibukota Indonesia tampil menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat.

Bagi penduduk lain yang berdomisili di desa, Jakarta menjadi salah satu kota tujuan impian untuk mereka mengubah nasib.(Info Ramadhan)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين